Kamu itu susah ditebak.
Kadang kamu ada, kadang kamu hilang.
Kadang kamu menyenangkan, kadang kamu menyakitkan.
Aku mulai bingung dengan apa yang kurasakan denganmu.
Berkali-kali hatiku diserang perasaan yang campur aduk karenamu, tapi aku tetap sabar menunggu.
Menunggu kejadian terakhir apa yang kamu lakukan untukku.
Bolehkah aku mengeluh tentangmu?
Ya.
Aku bingung denganmu.
Kadang kamu datang bak pangeran berkuda putih seperti di dongeng-dongeng.
Kehadiranmu saat itu, selalu membuat jantungku berdetak lebih cepat seperti ingin loncat.
Aku sangat senang saat itu, ketika kamu memandangku lekat.
Aku sangat senang ketika kamu mengajakku berbicara dan bersenda gurau.
Aku sangat senang ketika kamu tiba-tiba mengajakku untuk beribadah bersama.
Aku juga sangat senang ketika kamu tiba-tiba duduk di sampingku, yang sontak membuatku kaget.
Walau kadang aku takut rasa gugup dalam hatiku akan bisa terbaca oleh matamu.
Tapi aku menyukai setiap alur kejadian yang kamu lakukan saat itu.
Lalu, ada saatnya kamu berubah menjadi orang yang 180 derajat berbeda dari yang aku sebutkan di atas.
Kadang kehadiranmu di mataku bak musuh yang ingin menerkamku perlahan.
Aku tahu, kamu menjaga dirimu dari lawan jenis mana pun.
Karena itu, kadang kamu berubah menjadi orang yang dingin terhadapku.
Kadang juga kamu membuat hatiku tergores karena mendengar kata-kata yang keluar dari mulut polosmu kepada mereka (lawan jenis) itu.
Aku juga sedih ketika mendengar bahwa banyak yang mengagumimu dan kamu terkesan menganggap hal itu biasa, seakan tak ada yang tersakiti karena hal itu.
Kadang aku juga sedikit kecewa ketika kamu sibuk dengan aktivitasmu yang bersebrangan denganku.
Kita terlalu berbeda untuk masalah itu.
Kamu yang melaksanakan, sedangkan aku yang mengawas.
Mungkin aku yang terlalu berlebihan dan egois karena menganggapmu labil.
Apalah dayaku yang hanya bisa mengagumimu tanpa bersuara.
Aku tak mau kita melanggar batasan yang sudah diatur oleh-Nya.
Aku hanya bisa menulis ini tanpa kamu tahu bahwa orang yang aku maksud di tulisan ini adalah kamu.
Ya, kamu.
Kita memang seiman.
Kita memang dekat, bahkan terlalu dekat dalam urusan jarak.
Tapi, kita mungkin jauh dalam urusan hati, ketika kamu memang tidak merasakan balik apa yang aku rasakan.
Aku hanya berharap, jika memang kamu yang ditakdirkan untukku, aku ingin kita dekat dengan cara yang DIA izinkan.
Namun, jika kamu bukan yang ditakdirkan untukku, aku berharap, rasa ini tidak bertahan lama di hatiku.
Untuk kamu...
Jika memang kamu ingin mengetuk pintu hatiku dan saat aku buka pintu itu, ku mohon jangan buat pintu itu tertutup rapat kembali.
Dari hatiku, untukmu.
25 Oktober 2015❤









0 komentar on " Kamu "
Posting Komentar